Selasa, 11 November 2008

Perkembangan Serat Optik

Penggunaan cahaya sebagai pembawa informasi sebenarnya sudah banyak digunakan sejak zaman dahulu, baru sekitar tahun 1930-an para ilmuwan Jerman mengawali eksperimen untuk mentransmisikan cahaya melalui bahan yang bernama serat optik. Percobaan ini juga masih tergolong cukup primitif karena hasil yang dicapai tidak bisa langsung dimanfaatkan, namun harus melalui perkembangan dan penyempurnaan lebih lanjut lagi. Perkembangan selanjutnya adalah ketika para ilmuawan Inggris pada tahun 1958 mengusulkan prototipe serat optik yang sampai sekarang dipakai yaitu yang terdiri atas gelas inti yang dibungkus oleh gelas lainnya. Sekitar awal tahun 1960-an perubahan fantastis terjadi di Asia yaitu ketika para ilmuwan Jepang berhasil membuat jenis serat optik yang mampu mentransmisikan gambar.

Di lain pihak para ilmuwan selain mencoba untuk memandu cahaya melewati gelas (serat optik) namun juga mencoba untuk ”menjinakkan” cahaya. Kerja keras itupun berhasil ketika sekitar 1959 laser ditemukan. Laser beroperasi pada daerah frekuensi tampak sekitar 1014 Hertz-15 Hertz atau ratusan ribu kali frekuensi gelombang mikro.

Pada awalnya peralatan penghasil sinar laser masih serba besar dan merepotkan. Selain tidak efisien, ia baru dapat berfungsi pada suhu sangat rendah. Laser juga belum terpancar lurus. Pada kondisi cahaya sangat cerah pun, pancarannya gampang meliuk-liuk mengikuti kepadatan atmosfer. Waktu itu, sebuah pancaran laser dalam jarak 1 km, bisa tiba di tujuan akhir pada banyak titik dengan simpangan jarak hingga hitungan meter.

Sekitar tahun 60-an ditemukan serat optik yang kemurniannya sangat tinggi, kurang dari 1 bagian dalam sejuta. Dalam bahasa sehari-hari artinya serat yang sangat bening dan tidak menghantar listrik ini sedemikian murninya, sehingga konon, seandainya air laut itu semurni serat optik, dengan pencahayaan cukup kita dapat menonton lalu-lalangnya penghuni dasar Samudera Pasifik.

Seperti halnya laser, serat optik pun harus melalui tahap-tahap pengembangan awal. Sebagaimana medium transmisi cahaya, ia sangat tidak efisien. Hingga tahun 1968 atau berselang dua tahun setelah serat optik pertama kali diramalkan akan menjadi pemandu cahaya, tingkat atenuasi (kehilangan)-nya masih 20 dB/km. Melalui pengembangan dalam teknologi material, serat optik mengalami pemurnian, dehidran dan lain-lain. Secara perlahan tapi pasti atenuasinya mencapai tingkat di bawah 1 dB/km.

Tahun 80-an, bendera lomba industri serat optik benar-benar sudah berkibar. Nama-nama besar di dunia pengembangan serat optik bermunculan. Charles K. Kao diakui dunia sebagai salah seorang perintis utama. Dari Jepang muncul Yasuharu Suematsu. Raksasa-raksasa elektronik macam ITT atau STL jelas punya banyak sekali peranan dalam mendalami riset-riset serat optik.

2. Time Line Pengembangan Fiber Optik

1917 Theory of stimulated emission Albert Einstein mengajukanm sebuah teori tentang emisi terangsang dimana jika ada atom dalam tingkatan energi tinggi 1954 "Maser" developed Charles Townes, James Gordon, dan Herbert Zeiger di Columbia University mengembangkankan "maser" yaitu microwave amplification by stimulated emission of radiation, dimana molekul dari gas amonia memperkuat dan menghasilkan gelombang. . Pekerjaan ini menghabiskan waktu tiga tahun sejak ide Townes pada tahun 1951 untuk mengambil manfaat dari osilasi frekuensi tinggi molekular untuk membangkitkan gelombang dengan penjang gelombang pendek pada gelombang radio. 1958 Pengenalan Konsep Laser Townes dan ahli fisika Arthur Schawlow mempublikasikan paper yang menunjukan bahwa maser dapat dibuat untuk dioperasikan pada daerah infra merah dan optik. .Paper ini menjelaskan tentang konsep laser (light amplification by stimulated emission of radiation)


1960 ditemukannya Continuously operating helium-neon gas laser Laboratorium Riset Bell dan Ali Javan serta koleganya William Bennett, Jr., dan Donald Herriott menemukan sebuah continuously operating helium-neon gas laser. 1960 Ditemukannya Operable laser Theodore Maiman, seorang fisikawan dan insinyur elektro di Hughes Research Laboratories, menemukan operable laser dengan menggunakan sebuah kristal batu rubi sintesis sebagai medium. 1961 Glass fiber demonstration Peneliti industri Elias Snitzer dan Will Hicks mendemontrasikan sinar laser yang diarahkan melalui serat gelas yang tipis. Inti serat gelas tersebut cukup kecil yang membuat cahaya hanya dapat melewati satu bagian saja tetapi banyak ilmuwan menyatakan bahwa serat tidak cocok untuk komunikasi karena rugi rugi cahaya yang terjadi karena melewati jarak yang sangat jauh. 1961 Penggunaan ruby laser untuk keperluan medis Penggunaan laser yang dihasilkan dari batu Rubi yang pertama, Charles Campbell of the Institute of Ophthalmology at Columbia- Presbyterian Medical Center dan Charles Koester of the American Optical Corporation menggunakan prototipe ruby laser photocoagulator untuk menghancurkan tumor pada retina pasien. 1962 Pengembangan Gallium arsenide laser Tiga group riset terkenal yaitu General Electric, IBM, dan MIT’s Lincoln Laboratory secara simultan mengembangkan gallium arsenide laser yang mengkonversikan energi listrk secara langsung ke dalam cahaya infra merah dan perkembangan selanjutnya digunakan untuk pengembangan CD dan DVD player serta penggunaan laser printer. 1963 Heterostructures Ahli fisika Herbert Kroemer mengajukan ide yaitu heterostructures, kombinasi dari lebih dari satu semikonduktor dalam layer-layer untuk mengurangi kebutuhan energi untuk laser dan membantu untuk dapat bekerja lebih efisien. Heterostructures ini nantinya akan digunakan pada telepon seluler dan peralatan elektronik lainnya.


1966 kertas Landmark pada optical fiber Charles Kao dan George Hockham yang melakukan penelitian di Standard Telecommunications Laboratories Inggris mempublikasikan landmark paper yang mendemontrasikan bahwa fiber optik dapat mentransmisikan sinar laser yang sangat sedikit rugi-ruginya jika gelas yang digunakan sangat murni. Dengan penemuan ini kemudian para peneliti lebih fokus pada bagaimana cara memurnikan bahan gelas. 1970 Fiber Optik yang memenuhi standar kemurnian. Ilmuwan Corning Glass Works yaitu Donald Keck, Peter Schultz, dan Robert Maurer melaporkan penemuan fiber optik yang memenuhi standar yang telah ditentukan oleh Kao dan Hockham. Gelas yang paling murni yang dibuat terdiri atas gabungan silika dalam tahap uap dan mampu mengurangi rugi-rugi cahaya kurang dari 20 decibels per kilometer. Pada 1972 tim ini menemukan gelas dengan rugi-rugi cahaya hanya 4 decibels per kilometer. Juga pada tahun 1970, Morton Panish dan Izuo Hayashi dari Bell Laboratories dengan tim Ioffe Physical Institute di Leningrad, mendemontrasikan semiconductor laser yang dapat dioperasikan pada temperatur ruang. Kedua penemuan tersebut merupakan terobosan dalam komersialisasi penggunaan fiber optik. 1973 Proses Chemical vapor deposition John MacChesney dan Paul O. Connor pada Bell Laboratories mengembangkan proses chemical vapor deposition process yang memanaskan uap kimia dan oksigen ke bentuk ultratransparent glass yang dapat diproduksi masal ke dalam fiber optik yang mempunyai rugi-rugi sangat kecil. 1975 Komersialisasi Pertama dari semiconductor laser Insinyur pada Laser Diode Labs mengembangkan semiconductor laser komersial pertama yang dapat dioperasikan pada suhu kamar. 1977 Perusahaan telepon menguji coba penggunaan fiber optic Perusahaan telepon memulai penggunaan fiber optik yang membawa lalu lintas telepon. GTE membuka jalur antara Long Beach dan Artesia, California, yang menggunakan transmisi light-emitting diode. Bell Labs mendirikan sambungan yang sama pada sistem telepon di Chicago dengan jarak 1,5 mil di bawah tanah yang menghubungkan 2 s switching station.

1980 Sambungan Fiber-optic telah ada di Kota kota besar di Amerika AT&T mengumumkan akan menginstal fiber-optic yang menghubungkan kota kota antara Boston dan Washington D.C. kemudian dua tahun kemudian MCI mengumumkan untuk melakukan hal yang sama. 1987 "Doped" fiber amplifiers David Payne di University of Southampton memperkenalkan fiber amplifiers yang dikotori oleh elemen erbium. optical amplifiers abru ini mampu menaikan sinyal cahaya tanpa harus mengkonversikan terlebih dahulu ke dalam energi listrik. 1988 Kabel Pertama Transatlantic Fiber-Optic Kabel Translantic yang pertama menggunakan fiber glass yang sangat transparan sehingga repeater hanya dibutuhkanb ketika sudah mencapai 40mil. 1991 Optical Amplifiers Emmanuel Desurvire di Bell Laboratories serta David Payne dan P. J. Mears dari University of Southampton mendemontrasikan optical amplifiers yang terintegrasi dengan kabel fiber optic tersebut. Keuntungannya adalah dapat membawa informasi 100 kali lebih cepat dari pada kabel electronic amplifier. 1996 optic fiber cable yang menggunakan optical amplifiers ditaruh di samudera pasifik TPC-5, sebuah optic fiber merupakan fiber optic pertama yang menggunakan optical amplifiers. Kabel ini melewati samudera pasifik mulai dari San Luis Obispo, California, ke Guam, Hawaii, dan Miyazaki, Japan, dan kembali ke Oregon coast dan mampu untuk menangani 320,000 panggilan telepon. 1997 Fiber Optic menghubungkan seluruh dunia Fiber Optic Link Around the Globe (FLAG) menjadi jaringan abel terpanjang di seluruh dunia yang menyediakan infrastruktur untuk generasi internet terbaru.

2. Generasi Perkembangan Serat Optik

Berdasarkan penggunaannya maka sistem komunikasi serat optik (SKSO) dibagi menjadi 4 tahap generasi yaitu :

1. Generasi pertama (mulai 1975) Sistem masih sederhana dan menjadi dasar bagi sistem generasi berikutnya, terdiri dari : alat encoding : mengubah input (misal suara) menjadi sinyal listrik transmitter : mengubah sinyal listrik menjadi sinyal gelombang, berupa LED dengan panjang gelombang 0,87 mm. serat silika : sebagai penghantar sinyal gelombang repeater : sebagai penguat gelombang yang melemah di perjalanan receiver : mengubah sinyal gelombang menjadi sinyal listrik, berupa fotodetektor alat decoding : mengubah sinyal listrik menjadi output (misal suara) Repeater bekerja melalui beberapa tahap, mula-mula ia mengubah sinyal gelombang yang sudah melemah menjadi sinyal listrik, kemudian diperkuat dan diubah kembali menjadi sinyal gelombang. Generasi pertama ini pada tahun 1978 dapat mencapai kapasitas transmisi sebesar 10 Gb.km/s.

2 Generasi kedua (mulai 1981)

Untuk mengurangi efek dispersi, ukuran teras serat diperkecil agar menjadi tipe mode tunggal. Indeks bias kulit dibuat sedekat-dekatnya dengan indeks bias teras. Dengan sendirinya transmitter juga diganti dengan diode laser, panjang gelombang yang dipancarkannya 1,3 mm. Dengan modifikasi ini generasi kedua mampu mencapai kapasitas transmisi 100 Gb.km/s, 10 kali lipat lebih besar daripada generasi pertama.

3. Generasi ketiga (mulai 1982)

Terjadi penyempurnaan pembuatan serat silika dan pembuatan chip diode laser berpanjang gelombang 1,55 mm. Kemurnian bahan silika ditingkatkan sehingga transparansinya dapat dibuat untuk panjang gelombang sekitar 1,2 mm sampai 1,6 mm. Penyempurnaan ini meningkatkan kapasitas transmisi menjadi beberapa ratus Gb.km/s.

4. Generasi keempat (mulai 1984)

Dimulainya riset dan pengembangan sistem koheren, modulasinya yang dipakai bukan modulasi intensitas melainkan modulasi frekuensi, sehingga sinyal yang sudah lemah intensitasnya masih dapat dideteksi. Maka jarak yang dapat ditempuh, juga kapasitas transmisinya, ikut membesar. Pada tahun 1984 kapasitasnya sudah dapat menyamai kapasitas sistem deteksi langsung. Sayang, generasi ini terhambat perkembangannya karena teknologi piranti sumber dan deteksi modulasi frekuensi masih jauh tertinggal. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa sistem koheren ini punya potensi untuk maju pesat pada masa-masa yang akan datang.

5. Generasi kelima (mulai 1989)

Pada generasi ini dikembangkan suatu penguat optik yang menggantikan fungsi repeater pada generasi-generasi sebelumnya. Sebuah penguat optik terdiri dari sebuah diode laser InGaAsP (panjang gelombang 1,48 mm) dan sejumlah serat optik dengan doping erbium (Er) di terasnya. Pada saat serat ini disinari diode lasernya, atom-atom erbium di dalamnya akan tereksitasi dan membuat inversi populasi*, sehingga bila ada sinyal lemah masuk penguat dan lewat di dalam serat, atom-atom itu akan serentak mengadakan deeksitasi yang disebut emisi terangsang (stimulated emission) Einstein. Akibatnya sinyal yang sudah melemah akan diperkuat kembali oleh emisi ini dan diteruskan keluar penguat. Keunggulan penguat optik ini terhadap repeater adalah tidak terjadinya gangguan terhadap perjalanan sinyal gelombang, sinyal gelombang tidak perlu diubah jadi listrik dulu dan seterusnya seperti yang terjadi pada repeater. Dengan adanya penguat optik ini kapasitas transmisi melonjak hebat sekali. Pada awal pengembangannya hanya dicapai 400 Gb.km/s, tetapi setahun kemudian kapasitas transmisi sudah menembus harga 50 ribu Gb.km/s.

6. Generasi keenam

Pada tahun 1988 Linn F. Mollenauer memelopori sistem komunikasi soliton. Soliton adalah pulsa gelombang yang terdiri dari banyak komponen panjang gelombang. Komponen-komponennya memiliki panjang gelombang yang berbeda hanya sedikit, dan juga bervariasi dalam intensitasnya. Panjang soliton hanya 10-12 detik dan dapat dibagi menjadi beberapa komponen yang saling berdekatan, sehingga sinyal-sinyal yang berupa soliton merupakan informasi yang terdiri dari beberapa saluran sekaligus (wavelength division multiplexing). Eksperimen menunjukkan bahwa soliton minimal dapat membawa 5 saluran yang masing-masing membawa informasi dengan laju 5 Gb/s. Cacah saluran dapat dibuat menjadi dua kali lipat lebih banyak jika dibunakan multiplexing polarisasi, karena setiap saluran memiliki dua polarisasi yang berbeda. Kapasitas transmisi yang telah diuji mencapai 35 ribu Gb.km/s.

Cara kerja sistem soliton ini adalah efek Kerr, yaitu sinar-sinar yang panjang gelombangnya sama akan merambat dengan laju yang berbeda di dalam suatu bahan jika intensitasnya melebihi suatu harga batas. Efek ini kemudian digunakan untuk menetralisir efek dispersi, sehingga soliton tidak akan melebar pada waktu sampai di receiver. Hal ini sangat menguntungkan karena tingkat kesalahan yang ditimbulkannya amat kecil bahkan dapat diabaikan. Tampak bahwa penggabungan ciri beberapa generasi teknologi serat optik akan mampu menghasilkan suatu sistem komunikasi yang mendekati ideal, yaitu yang memiliki kapasitas transmisi yang sebesar-besarnya dengan tingkat kesalahan yang sekecil-kecilnya yang jelas, dunia komunikasi abad 21 mendatang tidak dapat dihindari lagi akan dirajai oleh teknologi serat optik.

http://id.wikipedia.org/wiki/Serat_optik

BUDAYA DAN KONSEP TEKNOLOGI

Definisi

Mendefinisikan konsep teknologi secara tepat memerlukan pemikiran mengenai manusia dan aspek sosial yang ada. Banyak orang mengidentifikasi teknologi hanya dengan aspek teknis karena anggapan bahwa teknologi selalu berurusan dengan mesin, teknik, dan segala aktivitas untuk menjalankan sesuatu. Kata ’Teknologi’ terkadang digunakan oleh orang orang dengan pemikiran terbatas dan juga oleh orang orang dengan pemikiran yang lebih luas. Ketika orang orang dengan pemikiran terbatas mendefinisikan teknologi, maka aspek budaya akan ditempatkan sebagai bagian diluar teknologi, teknologi hanya terbatas pada masalah teknik. Sedangkan bagi orang orang dengan pemikiran yang lebih luas, teknologi dikaitkan dengan ’technology practice’ atau kegiatan praktik dari teknologi yang tentu saja tidak bebas nilai karena akan berhubungan dengan tujuan penggunaan teknologi, aspek budaya, dan kondisi sosial yang ada. Beberapa definisi yang sifatnya formal menyebutkan bahwa, teknologi adalah hasil dari pengetahuan ilmiah yang teroganisir dan diaplikasikan secara sistematis ke dalam hal hal yang bersifat praktis.Secara eksplisit, teknologi dianalogikan sebagai ’hardware’ dimana manusia sebagai pengguna dan teknologi sebagai alat yang digunakan. Namun, selanjutnya perkembangan di bidang teknologi menyebutkan bahwa teknologi lebih dari hanya sekedar ’hardware’. Teknologi merupakan ’liveware’ karena organisme – organisme hidup setidaknya bergantung pada teknologi. Selain pendefinisian teknologi’, pendefinisian kata ’ teknikal’ dan ’teknologikal’ juga menjadi perbincangan. Pendefinisian kedua konsep itu membutuhkan deskripsi atau contoh kasus agar lebih mudah dipahami. Dan pada akhirnya, menurut Arnold Pacey, konsep teknikal lebih mengarah pada pengaplikasian suatu produk teknologi untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan ’teknologikal’ merupakan konsep yang lebih luas, tidak hanya terpaku pada hal hal yang sifatnya teknikal.

Latar belakang dan Nilai Nilai masyarakat

Sistem teknologi meliputi manusia dan mesin. Tingkatan keduanya adalah setara. Namun pada kenyataannya manusia, karena merasa dirinya sebagai ’user’ dari mesin, seringkali memposisikan diri lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan budaya yang terjadi di masyarakat. Ketika sebuah mesin produk teknologi mengalami kerusakan, seringkali yang dislahkan adalah mesin itu sendiri. Mesin yang buruk, tidak tahan lama, kurang canggih, dan alasan lainnya. Manusia sering mengesampingkan alasan bahwa mesin itu kurang dirawat oleh manusia. Manusia cenderung terfokus pada aspek teknik dari setiap masalah yang bersifat praktis. Dan mereka lalu mulai berfikir tentang kemampuan luar biasa lainnya yang dapat diciptakan melalui teknologi. Manusia makin mengharapkan teknologi dapat menyelesaikan setiap masalah.Yang perlu disadari, teknologi tidak selamanya dipuja dan dibutuhkan begitu saja oleh masyarakat di seluruh dunia. Teknologi juga harus diiringi dengan perkembangan pendidikan dan pengetahuan. Menjamurnya teknisi teknisi yang ahli juga tidak akan berpengaruh apa apa jika mayoritas penduduknya tidak terpelajar. Masyarakat tersebut akan menganggap teknologi tak ubahnya seperti alien. Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak dapat netral dan berdiri sendiri. Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan perkembangan sosial, pendidikan, dan kebudayaan.

Pengukuran Kemajuan Teknologi

Manusia terbiasa terfokus pada produk teknologi dibandingkan dengan aktivitasnya sehari hari. Karena itulah kemajuan teknologi sering diukur dengan melihat pada berbagai macam produk teknologi yang baru diciptakan, serta jumlahnya yang meningkat. Sebagai contoh, pada awal tahun 1600, penemuan seperti mesin cetak, kompas megnetis menjadi bukti dari kemujuan teknologi. Dan semakin berkembangnya zaman, ditemukan pula mesin uap dan lampu elektrik.Berbagai tipe mesin bermunculan untuk menunjukkan perkembangan yang bertahap dalam jangka waktu yang lama. Kemajuan teknologi dianggap melaju secara konsisten dan diukur melalui grafik.Nicholas Rescher, seorang ahli statistik dan diagram menyatakan bahwa konsistensi dari kemajuan teknologi adalah hal yang lumrah. Namun cara pandang tersebut ternyata memiliki kelemahan yang fatal. Dengan keadaan yang konsisten, kemajuan teknologi menjadi tidak dinamis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemajuan salah satu dimensi membuat kemunduran dimensi yang lain menjadi dikesampingkan. Contohnya di dunia pertanian. Jumlah produksi pertanian dikaitkan dengan faktor tanah, SDM, dan energi yang berlimpah. Padahal belum tentu untuk mencapai panen yang berlimpah harus memiliki SDM, energi, dan tanah yang banyak. Kemajuan panen tidak hanya berkisar diantara faktor tersebut saja. Apalagi fakta bahwa di Amerika serikat yang memiliki lahan sangat luas tidak menjadikan hasil pertaniannya serta merta meningkat dan berlebih.Tingginya tihasil pertanian juga disebabkan oleh aspek organisasional, hal tersebut juga dilihat dari perbandingan jumlah hewan ternak dan hasil panennya. Kemajuan teknologi di bidang pertanian dapat dilihat dari munculnya pupuk kimia dan traktor. Dengan traktor, para petani tetap dapat membajak sawah walaupun dalam kondisi iklim yang tidak mendukung. Berpindahnya penggunaan mesin uap menjadi penggunaan turbin raksasa juga dijadikan sebagai ukuran kemajuan teknologi.

Organisasi Kerja

Intepretasi dalam hal kemajuan teknologi bersifat linear. Pada tahun1840, kemajuan di bidang pertanian dikaitkan dengan revolusi Industri. Dengan demikian kejadiannya bersifat searah. Pola intepretasi yang linear memunculkan pernyataan bahwa perkembangan yang terjadi di bidang teknologi, dalam hal ini perkembangan pabrik pabrik yang menggunakan mesin uap, memunculkan sistem ekonomi kapitalis. Namun opini tersebut tidaklah sepenuhnya tepat. Buktinya, pabrik yang ada pada saat revolusi industri dan menggunakan sistem kapitalis mengaku sama sekali tidak bergantung pada terciptanya mesin uap. Banyak negara eropa,yang masih menggunakan tenaga kuda sebagai sumber energi mereka. Sebenarnya, peranan produk teknologi seperti mesin mesin yang diciptakan bukanlah hal yang terpenting. Yang paling penting adalah bagaimana sistem manjemen pabrik di dalamnya. Sebagai bukti, sebuah pabrik di kawasan Eropa lebih memilih menggunakan tenaga kerja manusia dibandingkan mesin mesin canggih yang pada saat itu telah beredar. Pemilik pabrik berpendapat bahwa, dengan membawa pekerja pekerja melalui pelatihan kerja yang terawasi, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bahkan karena lingkungan yang kondusif, pencurian sejumlah material dapat dihentikan. Yang terpenting adalah esensi dari manajemen yang baik. Penumbuhan rasa disiplin dan pengkoordinasian antara atasan dengan bawahan yang baik merupakan sistem yang baik.Perubahan di dalam organisasi kerja dapat dilihat dari makin berkembangnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Satu divisi kerja dapat dipecah menjadi beberapa divisi kerja baru yang berarti membuka peluang kerja bagi tenaga kerja yang baru. Dan mulailah penggunaan mesin dilakukan untuk mempermudah pekerjaan yang ada. Dengan demikian keahlian khusus mulai jarang dibutuhkan. Pada era selanjutnya, dimana para ‘draftman’ bermunculan, penggunaan komputer mulai terjadi. Komputer digunakan untuk membuat gambar. Para desainer membuat gambar menggunakan VDU, yaitu papan gambar elektronik. Dengan demikian gambar akan dihasilkan secara lebih mendetail dan lebih cepat.Selain itu muncul pula program pemprosesan data yang berguna untuk membuat dokument atau tulisan. Tidak diragukan lagi, komputerisasi dapat membantu kita mengatasi kompleksitas dunia modern. Mikroprosesor memfasilitasi berbagai macam peralatan menjadi lebih efisien dan terbentuk rapi dalam satu wadah. Komputer memudahkan jalinan hubungan yang terjadi diantara manusia.

Penentuan keputusan dan Pergerakan dalam Kemajuan

Saat ini, pola – pola baru mengenai organisasi harus ditemukan sebelum inovasi atau teknik di dalam teknologi bermunculan. Organisasi kerja dianggap lebih penting dibandingkan dengan produk teknologi yang dihasilkan oleh organisasi kerja tersebut.Dibandingkan pernyataan bahwa mesin uap james watt memimpin revolusi industri, mungkin lebih pantas dikatakan bahwa perkembangan organisasi pabrik memberikan kesempatan pada james watt untuk menyempurnakan penemuannya.Kebanyakan penemuan dibuat dengan tujuan sosial tertentu, namun banyak pula yang terpengaruh oleh berbagai hal dan menyebabkan penemuan penamuan tersebut tidak sesuai dengan harapan manusia. Inovasi selanjutnya akan dilihat sebagai hasil dari siklus dari faktor sosial, kultural, dan teknikal.Teknologi bukan sesuatu yang berada di luar konsep sosial. Sosial dan teknologi saling berkaitan satu sama lain. Inovasi bukan hanya hasil dari logika yang rasional. Di dalamnya juga terkandung tujuan dan maksud tertentu. Inovasi juga merefleksikan kesadaran tentang kemungkinan dan kesempatan yang berhubungan dengan maslah ekonomi. Pergerakan inovasi dan kemajuan teknologi, secara khusus, dapat dilihat dari penggunaan manusia sebagai tenaga kerja menjadi penggunaan mesin dan komputer. Selain itu industri yang bersifat agrikultur mulai bergerak menjadi industri yang bersifat otomotif.

Budaya Para Ahli

Di kalangan praktisi, perbedaan bidang studi menyebabkan budaya teknologi yang berbeda pula. Di bidang kedokteran, teknologi berkisar pada cara cara menyembuhkan pasien. Hal ini berarti bagi seorang dokter, teknologi digunakan untuk mengobati, bukan mencegah. Sedangkan di bidang teknisi, teknologi digunakan untuk mencegah suatu masalah. Contohnya adalah penciptaan alarm kebakaran yang digunakan untuk mencegah kebakaran, atau kamera pengintai yang dapat mencegah pencuri masuk. Dalam dunia kedokteran ditemukan istilah ’Halfway technology’ atau teknologi separuh jalan. Teknologi ini dapat didefinisikan sebagai teknologi yang belum sepenuhnya dimengerti atau dikuasai oelh manusia. Dalam dunia kedokteran, teknologi seharusnya mencakup pada teknik – teknik yang bersifat efektif dan relatif murah. Namun, dalam dunia kedokteran dikenal pula tranplantasi organ atau kemotrapi yang disadari merupakan hal yang kompleks dan sulit dipahami. Hal itulah yang dimaksud dengan teknologi separuh jalan. Terkadang, pengetahuan yang sudah dimiliki dan dikuasai dengan mudah malah tidak digunakan, seseorang cenderung mempelajari dan mengadopsi teknologi baru yang lebih rumit dan canggih. Perbedaan budaya yang melahirkan perbedaan dalam memandang teknologi seringkali menimbulkan perdebatan. Contoh kasus terjadi diantara ahli lingkungan dengan sukarelawan mengenai hal penyebab kanker. Para sukarelawan bersikukuh menyatakan bahwa penyebab kanker rahim adalah hubungan seksual secara bebas. Para sukarelawan memberikan data data dan menyebutkan bahwa faktor lingkungan hanya berpengaruh sebesar 5 persen terhadap penularan penyakit tersebut. Lain halnya dengan ahli lingkungan yang menyatakan bahwa penyakit kanker rahim 40 persen disebabkan karena kondisi lingkungan, daerah kumuh dan miskin yang berhubungan dengan kesulitan menrawat diri dan mendapatkan air bersih,sampai hal lingkungan tempat suami bekerja. Perbedaan pendapat tersebut dilatarbelakangi oleh cara pandang setiap ahli terhadap masalah kanker. Para ahli lingkungan akan memandang dari segi lingkungan. Contoh lain terjadi dalam hal polusi udara, dimana para kimiawan merasa bahwa polusi merupakan murni masalah kimia, dan mereka benar benar tidak memasukkan unsur kelalaian manusia, atau unsur keadaan lingkungan yang sepi dari pepohonan. Para ahli seringkali hanya berdiri pada bidang keahliannya saja, mereka melupakan faktor faktor non ilmiah di luar aspek teknikal yang mereka yakini. Para ahli memandang teknologi dan semua maslah yang ada di dalamnya dari segi teknis, dan hanya sedikit memandang segi kultural sepertinilai nilai personal atau segi organisasional seperti aktivitas lingkungan. Mereka memperkecil cakupan menjadi hanya aspek teknis dimana aspek tersebut telah mereka kuasai secara mendetail.

sumber wsygbibeh.blogspot.com

Kemajuan Science dan Teknologi Pra Reinesance

Kemajuan teknologi yang dialami pada peradaban ummat manusia selalu di identikkan dengan munculnya abad pencerahan di benua Eropa yang dimulai “gongnya” oleh revolusi Prancis. Kemudian perkembangan teknologi pun berkembang dengan kemunculan revolusi industri di Inggris dan ditemukan serta berkembangnya berbagai bentuk cabang ilmu murni (Fisika klasik, Kimia klasik, matematika ) untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai ke dunia modern sampai saat ini. Namun yang jadi pertanyaan adalah benarkan sebelum masa Rainesance terjadi ummat manusia mempunyai hasil peradaban yang sangat terbelakang?. Secara penelitian sejarah memang dirasa tidak mungkin karena banyak misalnya bangunan – bangunan yang dibangun pada masa pra Raiesance yang mempunyai nilai arsitektur tinggi dan sangat sulit jika pada saat itu teknologi sebgaia hasil peradaban ummat manusia pada saat itu “ terbelakang “. Tulisan ini berusah untuk mengungkap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa pra Rainesance yang memang banyak di dominasi oleh hasil teknologi zaman Kekhalifahan Islam. Harapannya ini bisa menjadi referensi bagi kita untuk mengembangkan teknologi di zaman yang akan datang. Tulisan ini kami sadur dari tulisan Dr. Ing. Fahmi Amhar salah satu peneliti senior di BAKOSURTANAL dan peneliti muda terbaik Inodnesia tahun 2001. Selamat Membaca

Pada bulan Ramadhan seperti saat ini beberapa pihak gemar mengadakan seminar yang terkait dengan astronomi, namun hanya terbatas pada soal hisab dan rukyat hilal. Padahal bidang astronomi pada masa kekuasaan Islam tidaklah sebatas masalah jadwal shalat, arah kiblat, hisab, dan rukyat; namun lebih jauh lagi, menyangkut banyak aspek sains, teknologi, dan industri yang dibutuhkan dalam melayani urusan manusia, serta dalam dakwah dan jihad fi sabilillah. Karena itu, sebagai ilustrasi tentang bagaimana kehidupan para ilmuwan di bawah naungan syariat pada masa itu, bisa kita ikuti kisah menarik berikut, yang dikutip dari buku, Allah Sonne ueber dem Abendland, karya Sigrid Hunke.

Musa bin Syakir diketemukan tewas ketika sedang melakukan aktivitasnya sebagai penyamun. Dia meninggalkan tiga putra remaja. Berita kematiannya sampai kepada Khalifah al-Makmun saat ia sedang meninjau Asia kecil. Segera dia memberikan perintah kepada pejabat di Bagdad agar mengurus anak-anak Musa (Banu Musa), dan di setiap suratnya ia tidak pernah lupa menanyakan keadaan anak-anak asuhnya itu.

Banu Musa diserahkan kepada Yahya bin Abi Mansur untuk dididik. Yahya adalah astronom Khalifah dan ketua Akademi Ilmu Pengetahuan (Baitul Hikmah) yang didirikan Khalifah al-Manshur. Saat itu, di sana al-Khawarizmi sedang menerjemahkan Siddhanta, memperbaiki tabel Ptolomeus, serta menulis bukunya yang monumental, buku tentang ilmu hitung dan persamaan-persamaan matematika: Aljabar.[i]

Di sinilah, langsung di mata ir ilmu, di antara ribuan buku-buku, peralatan yang jarang ditemui, dan di antara percakapan dan debat antar ilmuwan segala bidang, tumbuh dewasalah tiga remaja berbakat itu. Tidak aneh jika di kemudian hari, tiga putra penyamun padang pasir Musa bin Syakir serta anak asuh Amirul Mukminin tumbuh menjadi mercusuar ilmu pengetahuan.

Muhammad bin Musa, yang tertua, adalah yang paling berpengaruh di antara mereka. Dia menjadi seorang lelaki yang gagah, negarawan yang disegani, dan menjadi kepercayaan Khalifah.

Khalifah al-Makmun telah memerintahkan untuk membuatkan para astronomnya sebuah observatorium di tempat tertinggi di Bagdad, di dekat pintu masuk Syammasiya, untuk mengamati gerakan planet secara sistematis. Dengan pengamatan yang eksak, yang pada saat bersamaan juga dilakukan di Jundisyapur, dan untuk kontrol tiga tahun kemudian diulang di gunung Kasiyum dekat Damaskus, para astronom bersama-sama menyusun apa yang disebut, "Tabel Makmun yang Telah Diverifikasi", yang merupakan revisi total atas tabel astronomi Ptolomeus.

Dengan tabel astronomi yang teliti, orang bisa menentukan posisi suatu tempat (lintang/bujur) dengan mengukur sudut tinggi bintang tertentu pada waktu tertentu. Bintang apa pada waktu kapan akan memiliki koordinat langit yang akan bisa dibaca atau dihitung dari tabel[ii]. Dengan posisi yang teliti ini, sebuah kapal bisa bernavigasi di lautan dengan akurat. Kalau dia kapal dagang, dia bisa memperhitungkan kapan dia bisa mengisi kapalnya dengan air, logistik, dan barang dagangan di pelabuhan terdekat. Kalau dia kapal perang, dia akan tahu di posisi mana dia harus mewaspadai patroli atau ranjau musuh.

Sebuah Astrolabium dari Abad 12 M.

Akhirnya, sampai juga saatnya Muhammad bin Musa untuk boleh ikut dalam kampanye pengukuran bumi. Dengan suatu regu astronom, berangkatlah ia ke dataran Sindsyar sebelah barat Mosul. Eratosthenes telah mendapatkan besar keliling bumi untuk pertama kali dengan mengukur sudut sinar matahari.

Kini, para astronom Al-Makmun mencoba metode yang lain. Berangkat dari suatu titik, satu regu berjalan ke utara, satu regu lainnya ke selatan, hingga mereka melihat bintang 'keledai muda'—sebuah bintang kutub—terbit di sini, dan terbenam di sana. Dari jarak antara kedua regu pengamat ini mereka bisa menghitung panjang satu meridian, dan ini dengan ketelitian yang sangat tinggi.

Namun kemudian, mulailah Muhammad bin Musa dan saudaranya membuat nama dengan pengamatan dan hitungan yang mereka lakukan sendiri. Hasil penelitian mereka tidak hanya membayang-bayangi pekerjaan Ptolomeus, namun juga astronom Khalifah yang terkenal: Mawaruzi.

"Saya temukan", demikian kata Al-Biruni seratus lima puluh tahun kemudian, "bahwa di antara hasil penelitan-penelitan ini, orang terutama mengambil hasil dari Banu Musa, dan akhirnya mengikutinya, karena mereka telah menyerahkan segenap kekuatannya, untuk menemukan kebenaran; mereka menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengembangkan metode astronomi serta kecakapan aplikasinya, dan kemudian banyak ilmuwan lain yang menyaksikan, bersedia menjamin ketelitian pengamatan mereka."

Sementara itu, Banu Musa telah meninggalkan observatorium “si tua” Yahya bin Abi Manshur. Muhammad bin Musa kini adalah seorang lelaki mandiri yang perfeksionis. Soal uang, tiga bersaudara itu tidak perlu risau.[iii] Mereka kini memiliki observatorium sendiri, di dekat jembatan sungai Tigris di Bab at-Taq. Di sini Muhammad menekuni pengamatan dan perhitungannya dengan penuh dedikasi. Di sini pula ia mengarang karya-karya astronomi, tulisan pertama dalam bahasa Arab tentang hukum transversal yang yang produktif. Dia juga sibuk dengan filsafat, terutama logika, serta menulis karya tentang "sebab-sebab pertama dunia". Dia juga tertarik pada meteorologi dan membuat pengamatan atmosfir. Dia pun bersemangat untuk membuat berbagai konstruksi mekanik, yang merupakan batu loncatan bagi adiknya, Ahmad, yang dalam tulisannya tentang "timbangan cepat" menambah sangat penting dalam astronomi, dan bersama saudaranya menulis tentang pengukuran pada permukaan datar dan sferis, yang oleh Gerhard von Cremona dialihkan ke bahasa Latin sebagai "Buku dari Tiga Bersaudara"—"Libertrium fratrum de geometrica".

Akan tetapi, Muhammad tidak cuma seorang astronom dan matematikawan pengenalan dunia antik. Ahmad adalah seorang insinyur yang piawai dan penemu jenius di keluarga. Sebuah sumber Arab mengatakan, "Pada Ahmad terdapat bakat membuat benda-benda yang baik saudaranya sendiri (Muhammad) maupun orang-orang lain sebelumnya (seperti Heron) tidak pernah sampai, yang sibuk secara mendasar dengan teknik peralatan otomatis yang penuh makna". Bukunya yang sangat tebal tentang "Konstruksi Penuh Makna" bahkan membuat orang Arab yang berbakat teknik pun berdecak kagum.

Inovasinya 'menyulap' komponen-komponen sederhana menjadi banyak sekali peralatan yang baru dan kompleks untuk keperluan praktis, baik untuk setiap ibu rumahtangga modern, atau setiap petani; dia juga membuat permainan teknis untuk hiburan, yang hingga hari ini akan tetap membuat setiap anak-anak gembira.

Ada sebuah bejana yang bisa mengeluarkan sejumlah tertentu cairan, yang di antara kedua keluaran ada waktu jeda[iv]; sebuah bejana untuk mengukur berat jenis suatu cairan[v]; sebuah mekanisme untuk mengisi bejana secara otomatis, segera setelah ia kosong; botol, yang sesuai dengan kebutuhan bisa diisi dengan dua macam minuman, dan bisa dituangkan terpisah atau bercampur[vi]; lampu yang sumbunya bisa keluar sendiri, atau yang minyaknya bisa menetes sendiri sehingga tidak bisa dimatikan oleh angin[vii]; sebuah alarm, yang dipakai pada alat pengairan, yang akan memberikan tanda jika tinggi air tertentu telah tercapai[viii]; bermacam-macam air mancur, yang pancurannya selalu menimbulkan bentuk yang berlain-lainan.

Ilustrasi Mesin Pengangkat Air dari Abad 13 M

Tentu saja, Ahmad juga menunjukkan keahliannya dalam dunia astronomi. Dengan Muhammad ia membuat sebuah jam dari tembaga dengan ukuran raksasa. Muhammad menghitung variasi terbit dan terbenam dari beberapa bintang terpenting baik dalam sehari maupun setahun. Ahmad menuangkan hitungan yang sangat rumit dari kakaknya ini pada sebuah alat yang bekerja dengan sangat jenial, yang mengagumkan setiap orang. Dengan takjub, dokter Khalifah, Ibn Rabban at-Tabari berkomentar:

Di depan observatorium di Samara aku melihat alat yang diciptakan Muhammad dan Ahmad bin Musa, keduanya astronom dan insinyur. Alat itu berbentuk sebuah bola dan di atasnya semua gambar-gambar bintang. Alat itu digerakkan oleh tenaga air. Jika di langit yang sesungguhnya suatu bintang tenggelam, maka pada saat yang sama hilang pulalah gambarnya di alat itu, yakni terbenam di bawah suatu garis lingkaran yang menggambarkan horizon. Jika di langit bintang itu terbit kembali, demikian pula di alat itu, gambarnya muncul kembali di atas garis horizon.[ix]

"Saudara ketiga yaitu al-Hasan", cerita sumber Arab, "adalah besar dalam geometri. Dia sangat berbakat dan tidak seorang pun mendekati kemampuannya walaupun sedikit. Ingatannya sangat kuat dan ia memiliki kemampuan abstraksi yang luar biasa sehingga mampu menjawab berbagai soal, yang tidak seorang pun sebelumnya bisa memecahkannya. Kadang-kadang ia begitu tenggelam dalam berpikir sehingga dalam suatu konferensi dia bisa tidak mendengar sedikit pun."

Sementara itu, jika ia sedang sibuk dengan suatu soal, terjadilah—seperti ceritanya sendiri—"Aku melihat dunia di depan mataku tiba-tiba menjadi gelap dan aku merasa seperti dalam mimpi."

Namun, tidak cuma dari risetnya Banu Musa menjadi terkenal, melainkan juga dari jasa-jasanya bagi ilmu pengetahuan. Mereka masih relatif muda ketika muncul sebagai sponsor dunia ilmu. Dengan biaya sendiri, mereka mengirim utusan ke Kekaisaran Byzantium untuk mencari tulisan-tulisan tentang filsafat, astronomi, matematika, dan kedokteran. Dengan biaya tinggi, mereka membeli karya-karya Yunani dan menaruhnya di rumahnya di Bab at-Taq di Bagdad. Di sana dan di areal yang didapat sebagai hadiah dari Al-Mutawakkil[x] di Samarra, mereka mempekerjakan satu tim penerjemah yang berasal dari berbagai negeri. Khalifah al-Makmun sendiri yang telah memerintahkan untuk mengumpulkan buku-buku kuno dan mendirikan sekolah penerjemah.[xi]

Namun, lebih penting dari kemajuan dan penemuan dalam bidang pengamatan bintang, bahkan lebih penting dari penemuan fisika dan teknik—sekaligus syarat untuk prestasi di kedua bidang ini—adalah pendidikan dari 'alat-alat berpikir' yang mereka ciptakan, serta secara tidak langsung mereka 'siapkan' untuk dunia Barat.

Bangsa Arab—maksudnya rakyat Khilafah—saat itu adalah tokoh-tokoh matematika. Ini berlawanan dengan bangsa Romawi yang dalam bidang ini hanya membawa hasil-hasil yang sedikit, dan itu pun kadang-kadang hasil 'curian'. Ketika bakat matematika yang tinggi dari bangsa Yunani lebih didominasi oleh geometri sehingga aljabar pun mereka bungkus dengan geometri, sedangkan di sisi lain bangsa India murni "tukang hitung" (aritmetikawan), maka pada bangsa Arab kedua hal ini telah berhasil dikawinkan; suatu bakat yang dimiliki oleh Hassan bin Musa.

Dengan kemampuan ini, bangsa Arab membuka banyak cabang pengetahuan baru dan mengembangkannya hingga tingkat kematangan yang tidak pernah dicapai baik oleh bangsa Yunani maupun India. Karena itu, "bukan bangsa Yunani, namun bangsa Arablah guru-guru matematika Rennaisance". Di sini angka India sangat membantu.

Jelas, bangsa Arab amat beruntung mengenal angka India, namun juga beruntung bahwa mereka memahami untuk menggunakannya; tidak cuma sekadar melihat sebagai angka asing yang menarik. Di Alexandria dan Syria, orang sudah lebih dulu mengenal angka India, namun tanpa membuatnya sesuatu yang berarti. Di tangan rakyat Khilafahlah angka ini dalam waktu singkat menjadi alat yang sangat bermanfaat.

Setiap konstruksi, setiap hitungan astronomi atau fisika yang rumit, sangat bergantung pada adanya sistem bilangan yang sempurna. Bangsa Arab terbukti sangat bergairah dalam soal hitung-menghitung. Banyak desain teknik yang tidak pernah direalisasi, karena niatnya memang tidak untuk dibuat, melainkan sekadar untuk bermain hitungan. 'Kegilaan' mereka pada disiplin ilmu terindah, yakni berhitung ini, membawa mereka ke soal-soal aritmetika yang bagi matematikawan besar zaman itu dianggap tidak bisa dipecahkan. Aneh. Sebab, kata aritmetika adalah kata Yunani yang berarti "seni berbuat sesuatu dengan bilangan". Namun, bagi bangsa Yunani yang lebih berbakat spekulasi, hal itu terasa 'luks'. Sebagai 'putra mistik yang telah terdidik', aritmetika Yunani menyibukkan diri dengan teori bilangan, simbolik, deret, dan hubungan antarbilangan—namun tidak dengan hitungan yang bisa dipakai orang di pasar![xii] Aritmetika praktis seperti yang kita pahami sekarang, yang merupakan seni berhitung yang sesungguhnya, justru dimasukkan ke disiplin ilmu yang kurang diminati, yaitu logistik (tentang menata barang konsumsi).

Namun, justru ini medan utama bangsa India. Mereka banyak menghasilkan karya orisinal dan bermutu. Akan tetapi, seperti apa? Apa yang bisa dipakai dari situ? Mereka tidak hanya menuangkan agama dan filsafatnya ke dalam bentuk puisi. Bangsa lain, bahkan bangsa Arab juga seperti itu. Namun, bangsa India juga menuliskan ilmu astronomi dan matematika dalam bahasa misterius yang hanya bisa dipahami kalangan Brahmana saja.[xiii]

Baru bangsa Arab—sekali lagi, mereka adalah rakyat Khilafah—yang berpikir cerah, praktis, dan presisi; mengolah semua itu ke dunia yang jelas. Barulah lewat Al-Khawarizmi aritmetika dibuka, baik untuk keperluan sehari-hari maupun dunia ilmu, serta dikembangkan secara sistematis. Dengan tambahan dari matematikawan Muslim selama beberapa abad, berkembanglah ia menjadi landasan aritmetika, dan nama Al-Khawarizmi diabadikan untuk menyebut 'sekumpulan perintah yang logis dan runtut'—'algoritma'—yang tanpa itu dunia komputer atau informatik tidak akan bisa dibayangkan;[xiv] terutama aljabar, yang juga untuk pertama kalinya disusun al-Khawarizmi ke dalam suatu sistem, bangsa Arab menjadikannya ilmu pasti. Dari aljabarlah Abu Kamil, al-Biruni, Ibnu Sina dan al-Karaji, dan Leonardo de Pisa menggali pengetahuannya tentang persamaan kuadratis dan kubis, yang lalu ditulis di bukunya, Liber abaci.

Bangsa Arab juga menemukan hitungan dengan angka pecahan desimal (hitungan "di belakang koma"). Astronom al-Kajilah yang pertama kali menuliskan angka 210/125 sebagai 2,08—suatu prestasi, yang tanpa itu tentu dewasa ini baik seorang penjual susu maupun ilmuwan akan mengalami kesulitan serius, dan bahkan hitung logaritmik pun akan menjadi mustahil.

Hingga saat ini, wajah aljabar kita ditandai oleh suatu ciri Arab: huruf x untuk tercari dalam suatu persamaan. Huruf ini, yang sering diikuti y untuk tercari kedua dan z untuk ketiga—murni urut alfabet—telah masuk ke khazanah Barat secara tersembunyi sehingga sulit dipercaya bahwa ia berasal dari Arab, apalagi di alfabet Arab tidak ada huruf x. Sesungguhnyalah, 'benda' yang dicari itu dalam bahasa Arab disebut 'syai', atau disingkat 'sy' (huruf syin). Bunyi huruf ini dalam bahasa Spanyol kuno[xv] ditulis dengan huruf x. Lalu belajarlah kita, paling lambat di SMP, dengan 'benda' Arab yang diberi 'pakaian' Spanyol.

Tujuh ratus tahun sebelum orang Inggris Newton dan orang Jerman Leibniz, dua ilmuwan Muslim sudah memikirkan hitung diferensial. Mereka adalah seorang dokter dan filosof Ibnu Sina (980-1037) alias Avicenna, serta teolog al-Ghazali (1053-1111) alias Algazel. Ibnu Sina, yang pada usia sepuluh belajar aritmetika India pada seorang pedagang arang, tumbuh menjadi matematikawan dan astronom yang sangat produktif dan kreatif. Dia memperkaya seluruh cabang ilmu pengetahuan, 'yang sebelumnya tidak ada orang yang sampai ke sana'. Di antaranya dia mengungkapkan adanya problem besaran yang tidak terhingga kecil, baik dalam agama maupun fisika dan matematika; suatu hal yang pada abad-17 mengantarkan Newton dan Leibniz pada infinitesimal dan kemudian membentuk ilmu kalkulus.

Al-Farabi (870-950), yang sering dijuluki 'guru kedua' setelah Aristoteles, adalah filosof dan matematikawan terkemuka serta musisi jempolan. Dia terkenal akan ide-idenya serta debatnya yang selalu berhasil dengan para ilmuwan di Damaskus, yang dengan ini ia bisa menghibur para pemuka masyarakat.[xvi] Dia juga terkenal dengan kuliah-kuliah musiknya tentang Canun, suatu jenis Harfa yang ia temukan, yang dengan itu, publikumnya yang panas bisa ditenangkan, dan pendengar yang capai bisa disegarkan. Kesibukannya dengan teori musik, akord, dan interval membawanya ke ide logaritma,[xvii] yang ia tulis dalam bukunya, Elemen-elemen Seni Musik.

Demikianlah, cuplikan buku Hunke yang secara obyektif mengungkap kembali berita-berita dari orang Barat pada masa pra Rainesance yang didominasi oleh peradaban Islam.

Berita-berita ini bisa diuji-silang dengan benda-benda sejarah yang disimpan di museum, atau juga dengan bangunan-bangunan fisik, yang sampai hari ini masih bisa disaksikan. Di berbagai museum besar Dunia Islam, terutama di Kairo, Damaskus, Bagdad, dan Istambul, benda-benda seperti dokumen penting negara, senjata, hingga alat-alat ilmu pengetahuan masih bisa disaksikan. Hanya saja, untuk Bagdad, serbuan tentara Amerika ke Irak baru-baru ini telah ikut memusnahkan bukti historis yang tidak ternilai ini. Sebagian benda sejarah ini juga barangkali akan diangkut ke museum-museum di Barat, seperti di Leiden (Belanda), Paris, atau New York; sebagaimana sudah berkali-kali terjadi selama ini

Dari tulisan diatas dapat kita tarik makna bahwa sebenarnya sebelum Rainesance peradaban ummat manusia telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat mendalam. Lalu dapat dilihat bahwa hasil dari peradaban yang mereka tinggalkan dan kembangkan dimasanya mempunyai dampak yang sangat positif bagi masyarakat dan kemajuan kehidupan saat itu serta pada generasi yang akan datang. Semoba melalui tangan kita, sains dan teknologi sekarang ini dapat bermanfaat untuk generasi yang akan datang.



[i] Ini menunjukkan bahwa lingkungan (mileu) yang kondusif akan merangsang pertumbuhan anak-anak berbakat. Dewasa ini, distribusi anak-anak berbakat di mana-mana sebenarnya merata, namun mileu yang cocok untuk itu lebih banyak berada di Amerika, Eropa, atau Jepang.

[ii] Pada zaman modern, tabel astronomi ini dibuat bersama-sama oleh hampir seluruh observatorium di dunia, dan dipublikasikan secara sentral, misalnya The Astronomical Almanach yang dikeluarkan oleh International Astronomical Union (IAU). Pada masa lampau, ketika belum ada radar, radio dan navigasi satelit, tabel astronomi dan chronometer (jam teliti) adalah satu-satunya alat navigasi bagi pelaut. Sekarang ini navigasi dilakukan dengan GPS, namun satelit GPS sendiri bernavigasi secara astronomis dengan alat pelacak bintang (star-tracker).

[iii] Mungkin mereka mendapatkan banyak donasi riset dari kaum aghniya di Daulah Khilafah, seperti halnya dewasa ini di Amerika dari Ford Foundation atau Rockefeler.

[iv] Mungkin seperti alat pengisi botol otomatis pada ban berjalan.

[v] Bejana ini berada di suatu alat penimbang, sehingga begitu cairan dituang pada bejana dengan volume tetap, segera diketahui berat jenisnya, yang merupakan berat dibagi volume.

[vi] Botol dengan dua ruang di dalamnya.

[vii] Ini konsep dasar lampu petromax.

[viii] Konsep dasar pelampung pada bak mandi yang sekaligus klep untuk kerannya. Bila air penuh, keran mati sendiri.

[ix] Alat seperti ini saat ini menjadi standar hampir pada setiap observatorium. Dengan teknik ini, maka arah teleskop bisa dibuat mengikuti gerakan bintang yang sedang diamati.

[x] Al-Mutawakkil berkuasa antara tahun 847-861 M

[xi] Tradisi ini di abad modern justru lebih banyak dilakukan oleh Belanda (untuk buku-buku kuno Indonesia) atau Amerika Serikat (untuk buku-buku kuno dari seluruh dunia). Banyak peneliti Indonesia kuno yang justru mendapatkan manuskrip kuno semacam kitab dari zaman Majapahit di museum di Belanda.

[xii] Pada abad modern, beberapa jenis deret bilangan, seperti deret Fibbonacci, deret Taylor dsb., banyak berguna dalam komputasi numerik fungsi-fungsi trigonometri atau mencari nilai logaritma di komputer, tapi jelas bukan untuk aktivitas sehari-hari.

[xiii] Ungkapan Sansekerta (India) yang dijumpai di Indonesia misalnya, "Turonggo Tinitihan Sesekaring Bawono," yang artinya adalah angka 1979.

[xiv] Dari sebuah sumber diriwayatkan bahwa Al-Khawarizmi mendapat ide untuk menuliskan hitungan aritmetika dalam persamaan aljabar ketika ia harus menghitung masalah pembagian waris (al-Faraidl) menurut hukum Islam.

[xv] Karena pertama kali dipelajari orang Barat di Andalusia.

[xvi] Mungkin semacam "talk-show" pada zaman modern.

[xvii] Perbandingan frekuensi nada berurutan = (ln 2)/12.

Sumber : http://konsepteknologi.multiply.com/journal/item/4/Kemajuan_Science_dan_Teknologi